Search Blog

Senin, 09 Desember 2013

Nasionalisme dalam Momentum Hari Kebangkitan Nasional

Illustrasi by: google.com


Pada tanggal 20 Mei lalu kita memperingati Hari Kebangkitan Nasional. Tentu saja pada momentum peringatan Hari Kebangkitan Nasional ini kita perlu merenungi bahwa terbentuknya Budi Utomo sebagai organisasi pergerakan nasional pertama di Indonesia tidak terlepas dai rasa nasionalisme yang ada di dalam jiwa pendiri serta para anggotannya.
Kita tentu tidak boleh melupakan jasa para pahlawan lainnya yang rela berkorban demi memperjuangkan negara kita ini. Rasa nasionalisme mereka sangat tinggi sehingga apapun selalu mereka korbankan demi sebuah  kemerdekaan.
Kini telah berselang 105 tahun berdirinya Budi Utomo, namun nampaknya rasa nasionalisme yang ada di dalam jiwa kita masih sangat rendah. Padahal seharusnya rasa nasionalisme haruslah dimiliki oleh seluruh masyarakat guna mempertahankan kesatuan Indonesia.
Wujud nasionalisme saat ini agak berbeda konteks dengan nasionalisme prakemerdekaan. Nasionalisme masa perjuangan dulu lebih condong agar Indonesia mendapatkan kemerdekaan. Sedangkan nasionalisme saat ini lebih condong untuk menjaga keutuhan NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) dan bagaimana cara agar Indonesia ini tetap merdeka serta tidak dijajah oleh bangsa lain lagi.

Memang turut serta dalam upacara hari kemerdekaan dan memasang bendera sudah menunjukan rasa nasionalisme, tapi hal seperti itu adalah wujud seremonial saja, hanya sebuah symbol. Rasa nasionalisme saat ini seharusnya memberikan kemampuan yang kita miliki untuk Indonesia. Misalnya saja sebagai mahasiswa, kita harus menuntut ilmu untuk meningkatkan sumber daya manusia di Indonesia.
Jika melihat situasi di Indonesia sekarang, rasa nasionalisme dirasa masih kurang. Dapat dikatakan demikian karena memang banyak kasus yang membuktikan hal tersebut. Contoh yang kita temukan setip hari adalah senangnya masyarakat Indonesia dengan produk luar negeri bahkan tidak sedikit masyarakat Indonesia yang menghabiskan liburannya di luar negeri sedangkan keindahan alam Indonesia di berbagai provinsi belum ia kunjungi.
Kita semua sadar bahwa pemuda memiliki peran penting baik dalam proses merebut kemerdekaan maupun memproklamirkan kemerdekaan. Namun lihatlah pemuda masa kini yang seharusnya turut membenahi berbagai masalah di Indonesia justru perlahan-lahan mulai meninggalkan kebudayaan Indonesia. Sangat sedikit kalangan pemuda yang menaruh perhatian pada masalah bangsa, karena mereka lebih tertarik pada kehidupan hedonis (kesenangan).
Namun kini kita dapat melihat banyak pemuda yang tidak perduli dengan kondisi keterpurukan yang melanda bangsa ini. Seiring dengan berkembangnya zaman, budaya–budaya asing kian merajalela di Indonesia. Jiwa dan rasa Nasionalisme yang tertanam dalam diri bangsa Indonesia semakin luntur. Masyarakat Indonesia cenderung menggunakan produk luar negeri karena dianggap keren padahal produk dalam negeri sungguh banyak yang tak kalah berkualitas. Hal ini terlihat sepele namun jika dibiarkan terus menerus akibatnya akan fatal, Indonesia akan kehilangan jati dirinya.
Jiwa Nasionalisme yang membara yang telah di torehkan dan di buktikan lewat tinta sejarah pada waktu perjuangan merebut kemerdekaan akan terbuang sia-sia. Tetesan demi tetesan darah dari para pahlawan akan terbuang sia-sia. Jika dengan mudah kita membiarkan kebudayaan bangsa kita diambil oleh bangsa lain. kalangan pemuda semestinya sadar, masa depan negara ini tergantung pada kita, apa jadinya negara ini jika kita tak peduli.
Rasa nasionalisme sangat penting demi mempertahankan integritas sebuah Negara. Perlu diketahui, nasionalisme itu kunci integritas suatu Negara. Semangat yang dulu begitu menggebu-gebu dari Sumpah Pemuda serta pergerakan perjuangan seolah-olah sirnah termakan waktu, tidak diteruskan. Terlihat juga bukti konkret lainnya tentang beberapa daerah yang ingin memisahkan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia, sudah menjadi suatu bukti yang jelas bahwa nasionalisme Indonesia sudah pudar.
Salah satu contohnya adalah Timor Leste yang dulu adalah bagian dari Indonesia. Mereka memisahkan diri dari Indonesia karena beranggapan mereka bisa berdiri sendiri sebagai negara, anggapan itulah yang menunjukkan rendahnya rasa nasionalisme.
Ada pendapat yang mengatakan bahwa sebenarnya Timor Leste bukanlah wilayah Indonesia karena wilayah Indonesia adalah daerah bekas jajahan Belanda namun Timor Leste merupakan jajahan Portugis. Namun, Timor Leste dulu pernah bersatu dengan Indonesia dan seharusnya kita haruslah tetap menjaga kesatuan NKRI sebagai bentuk nasionalisme tidak perduli bahwa kita jajahan Belanda sedangkan mereka jajahan Portugis.
Selain itu, GAM (Gerakan Aceh Merdeka) dan OPM (Organisasi Papua Merdeka) tetap saja berusaha agar Aceh dan Papua memisahkan diri dari Indonesia. Secara tidak langsung, berpisahnya Timor Leste menjadi ilham—yang salah—bagi kedua Ormas tersebut. Hal ini tentunya mencerminkan masih kurangnya rasa nasionalisme. Jika rasa nasionalisme sudah tinggi, mereka tidak akan berpikir untuk memisahkan diri dari Indonesia.
Selain menumbuhkan rasa nasionalis terhadap pemuda serta masyarakat, yang tidak kalah sulit adalah menumbuhkan jiwa nasionalisme di kalangan pemerintahan. Seperti kita ketahui rendahnya rasa nasionalisme di pemerintahan Indonesia dapat terlihat dari perilaku pemerintahnya, seperti korupsi. Korupsi sangat merugikan negara dan rakyat Indonesia, itu sangat bertentangan dengan nasionalime dimana seseorang harus mendukung negara bukan untuk merugikan negara.
Korupsi, seperti yang sudah diketahui oleh seluruh masyarakat, tidak saja mengancam lingkungan hidup, hak asasi manusia, lembaga-lembaga demokrasi dan hak-hak dasar kemerdekaan, tetapi juga menghambat pembangunan dan memperparah kemiskinan jutaan orang di seluruh dunia termasuk Indonesia.
Indonesia masih memiliki angka korupsi yang luar biasa tinggi, bahakan Indonesia adalah negara terkorup di Asia dan Asia Pasifik. Tentu miris bila harus melihat kenyataan seperti demikian karena para pemimpin seharusnya memberikan contoh yang baik tentang nasioanalisme.
Tingginya angka korupsi di Indonesia telah menyebabkan semua sistem dan sendi kehidupan bernegara rusak karena praktik korupsi telah berlangsung secara merata dan membuat larut hampir semua elite politik. Jika dibiarkan terus berlangsung dan tanpa tindakan tegas, korupsi akan menggagalkan demokrasi dan membuat negara dalam bahaya kehancuran.
Angka korupsi di Indonesia selama tahun 2012 menjadi perhatian dunia. Indonesia bahkan tergabung dalam 60 besar negara terkorup di dunia versi Transparansi Internasional.  Indonesia duduk di peringkat 118 dari daftar peringkat indeks persepsi korupsi 174 negara dunia. Namun jika mengacu poin tiap negara, Indonesia duduk di posisi 56 negara terkorup. Indeks persepsi korupsi di Indonesia mencapai poin 32. Indonesia berjarak 24 poin dari Somalia yang jadi negara terkorup. Indonesia terpaut 58 poin dari Denmark yang dinilai sebagai negara paling bersih dari korusi tahun 2012. 
Selama tahun 2012, sejumlah kasus korupsi memang terus muncul ke permukaan. Kasus Hambalang yang menyeret nama mantan Menpora Andi Mallarangeng, kasus Wisma Atlet, dan kasus korupsi pengadaan Al Quran jadi beberapa kasus yang membuat Indonesia duduk di peringkat 118 daftar indeks persepsi korupsi. Peringkat Indonesia ini menurun bila dibanding tahun 2011, di mana Indonesia berada di posisi 100.  Belum lagi korupsi yang marak dan terus menghiasi berbagai berita di berbagai media massa terjadi di tahun 2013 ini.
Nasionalisme harus dibentuk dan dibangun secara manifestasi melalui berbagai teori dan praktek sehingga mampu menghasilkan sebuah paradigma sehingga lambat laun menjadi kenyataan yang universal. Dalam membangun ide nasionalisme secara utuh memerlukan pemahaman dan organisasi berbasis gerakan untuk bertransaksi secara sosial dengan masyarakat, sehingga pada akhirnya terjadi interaksi kuat antara organisasi dan massa dalam satu ide, yaitu nasionalisme.
                                                                                                              

                                                                                                               

Tidak ada komentar:

Posting Komentar