Sejatinya Ibu maupun Ayah memiliki cinta yang sama besar kepada putra-putri mereka.
Keduanya saling bekerjasama guna mendidik anak mereka menjadi seorang yang
sukses. Bukan hanya untuk sukses dalam materi, namun juga sukses mengatur emosi
dalam mengahadapi dunia luar yang terkadang pahit.
Tanpa
mengharap pamrih, mereka siap memberikan apapun yang aku butuhkan. Mereka
selalu berusaha memenuhi segala kebutuhanku karena tak ingin melihatku merasa
sedih apalagi berkecil hati. Meski tak jarang keinginanku tak mereka penuhi.
Aku yakin alasan mereka terkadang tidak memberikan apa yang aku inginkan karena
mereka tak ingin aku menjadi pribadi yang manja. Aku dituntut untuk membedakan
mana kebutuhan dan mana keinginan.
Dengan
sabar mereka mengarahkanku dan teramat sering mereka harus mengelus dada saat
aku mulai keras kepala. Mereka selalu memberikanku kompas dan peta saat aku
tersesat di hutan tanpa teman. Mereka selalu bangga dengan apa yang kulakukan.
Aku yakin sebenarnya mereka kecewa namun mereka tak ingin aku berjalan dengan
menundukkan kepala.
Mereka
selalu mendukung apa yang aku lakukan asalkan tidak melanggar norma apalagi
peraturan. Itu semua mereka lakukan supaya aku dapat berkembang menjadi pribadi
yang positif. Terkadang mereka membatasi hal apa yang boleh aku lakukan dan
yang tidak boleh kulakukan agar aku tidak salah langkah dan terjerumus ke
jurang nan curam nantinya.
Aku
sangat sayang dengan Ibu karena tak pernah memaksaku ini itu. Justru beliaulah
yang selalu menghilangkan penatku. Beliau juga tidak pernah mengeluh bahwa aku
jarang sekali membantu beliau. Ibuku memang super karena selain sabar
menghadapiku, Ibu juga sabar menghadapi adik-adikku yang memiliki karekter yang
berbeda-beda dan terkadang kami susah diatur.
Selain
sayang dan kagum dengan Ibu, aku juga kagum dengan Ayah karena beliau bukanlah tipe
ayah yang kaku dengan anak-anaknya. Setiap hari libur, Ayah selalu menyempatkan
diri untuk mengobrol dengan keempat anaknya, termasuk aku. Obrolan ini
dimanfaatkan Ayah untuk mengarahkan kami ke arah yang benar. Obrolan yang
disertai canda tawa inilah yang terkadang tak kami sadari bahwa Ayah telah
memaksa kami untuk melakukan apa yang disuruh Ayah.
Ibu
dan Ayah selalu bekerja sama dalam mendidik kami. Ibu sibuk memberi perhatian
dan Ayah sibuk mengarahkan. Sebagai kepala rumah tangga, Ayah memang bertugas memegang
kendali atas keluarga agar kami mampu menghadapi berbagai masalah yang datang.
Ayah layaknya nahkoda yang harus mengendalikan kapalnya ke tempat tujuan meski
badai ombak selalu menghadang.

good job :)
BalasHapus