Search Blog

Senin, 16 Desember 2013

They Are My Heroes




Sejatinya Ibu maupun Ayah memiliki cinta yang sama besar kepada putra-putri mereka. Keduanya saling bekerjasama guna mendidik anak mereka menjadi seorang yang sukses. Bukan hanya untuk sukses dalam materi, namun juga sukses mengatur emosi dalam mengahadapi dunia luar yang terkadang pahit.

Tanpa mengharap pamrih, mereka siap memberikan apapun yang aku butuhkan. Mereka selalu berusaha memenuhi segala kebutuhanku karena tak ingin melihatku merasa sedih apalagi berkecil hati. Meski tak jarang keinginanku tak mereka penuhi. Aku yakin alasan mereka terkadang tidak memberikan apa yang aku inginkan karena mereka tak ingin aku menjadi pribadi yang manja. Aku dituntut untuk membedakan mana kebutuhan dan mana keinginan.
Dengan sabar mereka mengarahkanku dan teramat sering mereka harus mengelus dada saat aku mulai keras kepala. Mereka selalu memberikanku kompas dan peta saat aku tersesat di hutan tanpa teman. Mereka selalu bangga dengan apa yang kulakukan. Aku yakin sebenarnya mereka kecewa namun mereka tak ingin aku berjalan dengan menundukkan kepala.
Mereka selalu mendukung apa yang aku lakukan asalkan tidak melanggar norma apalagi peraturan. Itu semua mereka lakukan supaya aku dapat berkembang menjadi pribadi yang positif. Terkadang mereka membatasi hal apa yang boleh aku lakukan dan yang tidak boleh kulakukan agar aku tidak salah langkah dan terjerumus ke jurang nan curam nantinya.
Aku sangat sayang dengan Ibu karena tak pernah memaksaku ini itu. Justru beliaulah yang selalu menghilangkan penatku. Beliau juga tidak pernah mengeluh bahwa aku jarang sekali membantu beliau. Ibuku memang super karena selain sabar menghadapiku, Ibu juga sabar menghadapi adik-adikku yang memiliki karekter yang berbeda-beda dan terkadang kami susah diatur.
Selain sayang dan kagum dengan Ibu, aku juga kagum dengan Ayah karena beliau bukanlah tipe ayah yang kaku dengan anak-anaknya. Setiap hari libur, Ayah selalu menyempatkan diri untuk mengobrol dengan keempat anaknya, termasuk aku. Obrolan ini dimanfaatkan Ayah untuk mengarahkan kami ke arah yang benar. Obrolan yang disertai canda tawa inilah yang terkadang tak kami sadari bahwa Ayah telah memaksa kami untuk melakukan apa yang disuruh Ayah.

Ibu dan Ayah selalu bekerja sama dalam mendidik kami. Ibu sibuk memberi perhatian dan Ayah sibuk mengarahkan. Sebagai kepala rumah tangga, Ayah memang bertugas memegang kendali atas keluarga agar kami mampu menghadapi berbagai masalah yang datang. Ayah layaknya nahkoda yang harus mengendalikan kapalnya ke tempat tujuan meski badai ombak selalu menghadang.

1 komentar: